Selasa, 02 Mei 2017

True Brew Coffee itu ya Kopi Tubruk (seduhan yang jujur, mendustakannya seperti mengingkari bahwa hidup dan kehidupn kita pun sesungguhnya penuh tubruk-an)

Siapa yang tak tahu kopi tubruk, cara menyeduh kopi yang sudah sangat tua dan menjadi tradisi Indonesia, meski pun pada mulanya tradisi ini datang dari Timur Tengah dan diperkenalkan oleh para saudagar. Caranya begitu sederhana, murah dan mudah. Dalam sesi-sesi cupping (cicip-cicip kopi), seduhan yang biasa digunakan adalah tubruk. Mungkin karena cara ini menghasilkan seduhan kopi dengan rasa yang lebih jujur. Tidak ada kamuflase. Tidak ada manipulasi rasa. Hanya ada teknik-teknik yang berbeda yang biasa dilakukan para penyeduh kopi tubruk yang suka bereksperimen. Tapi secara umum, metode dan bahan yang digunakan sama. Seduhan ini adalah hasil benturan/tabrakan dari air bersuhu tinggi (bervariasi, antara 85-100 derajat) dengan bubuk kopi (kasar) bersuhu ruang.

Bagi penikmat kopi tubruk, mengatakan lebih menikmati seduhan lain (selain tubruk) adalah dusta. Seperti mengingkari kenyataan bahwa hidup dan kehidupan kita pun sesungguhnya penuh dengan benturan, tabrakan, tubrukan. Nubruk sana sini, ditubruk si itu si ini. Nubruk budaya, nubruk idiologi, agama, nilai, atau ditubruk karakter, sifat dan perilaku orang-orang yang berbeda. Kaget ? Tentu saja. Terkejut ? pasti. Selalu ada efek kejut yang dihasilkan. Kejutan, bagaimana pun mampu menguras emosi. Senang, suka, marah, sakit. Beragam rasa akan berhamburan. Mungkin itu yang kita peroleh dari seduhan kopi tubruk. Itu sebab kenapa kopi tubruk mampu mengeluarkan semua rasa dan karakter si kopi, karena efek kejut dari tubrukan yang dialaminya dan mengguyur seluruh bodinya.


Seperti halnya ketika kita baru diserang keterkejutan, kaget setelah ditubruk. Biasanya butuh waktu untuk pengendapan, dan mengambil intisari dari tubrukan yang kita alami. Pun, rasanya demikian juga dengan kopi tubruk. Pernah mengalami sensasi saat berhadapan dengan kopi tubruk yang hampir mencapai ampas ? Jika belum, cobalah, memang sudah tidak lagi hangat, bahkan mulai mendingin, tapi rasanya sungguh berbeda, kuat dan matang.

Senin, 03 April 2017

Kopi, dari hulu ke hilir (olah rasa, pikir dan bathin)

Kopi. Minuman hitam seperti jelaga itu begitu menyihir. Mencium, mencecap, dan meneguknya adalah ritual klasik yang telah menjadi candu bagi penikmatnya.  Orang-orang membicarakannya seperti membicarakan masa depan.  Bagi para pengkriya, pembicaraan seputar kopi sama bergairahnya dengan proses berkarya. Ampas dan kulit, bisa bernilai lebih tinggi dari minuman kopi itu sendiri.  Bagi pelaku industri, membicarakan mesin-mesin pengolah kopi dan perlengkapan alat seduh kopi adalah bisnis yang tak pernah mati. Mereka cermat tidak hanya menemukan kesesuaian material dan teknik penggunaan alat sehingga menghasilkan sensasi rasa, juga cerdas menangkap kebutuhan akan rasa puas, termasuk kepuasan atas prestise masyarakat kopi. Bagi para pebisnis, membicarakan kopi setara dengan membicarakan laba. Mereka berani bertarung dengan skala investasi yang kian menukik. Seakan tak ada limitasi, untuk mengejar keuntungan.

Duduklah di sebuah café. Ada banyak jenis kopi dan ragam penyajian. Kita bisa memilih, sesuai keinginan. Kadang rasa penasaran akan menggerakkan pilihan kita. Melihat alat yang unik, cara penyajian yang terkesan modern, ritual yang pakem, membuat mata kita sebisa mungkin tak berkedip. Agar setiap proses tak terlewatkan.  Tentu saja, dalam dunia yang segala sesuatunya berisfat komersil, pelayanan yang didapat pun bermakna transaksi.  Kita memilih jenis kopi dan sajiannya, berarti kita membayar kopi dan pelayanan yang diberikan.  Sesuaikah harga dengan kepuasan ? relatif. Tidak ada standar baku yang namanya kepuasan.

Begitulah bius kopi bagi orang-orang di hilir. Ia begitu dicintai karena mampu memberi pilihan dan kepuasan. Andai kita bisa memindahkan pilihan dan kepuasan itu pada orang-orang di hulu, mungkin kisah indah secangkir kopi yang nikmat dan penuh sensasi sebanding dengan kisah indah petani kopi. Sayangnya, tidak demikian.  Tak ada pilihan musim bagi petani kopi, sekali pun mereka bisa bayar mahal untuk mendapatkan cuaca yang sangat baik untuk penjemuran.  Bagi mereka yang bisa membeli oven pengering bisa sedikit lega, tapi sebaik-baiknya panas tetaplah bersumber dari sang surya, dan sang surya tidak menjual layanan panasnya.  Juga tak ada pilihan menu hujan dan angin sesuai kadar yang kita inginkan, seperti para ahli roasting kopi yang bisa menentukan suhu dan waktu roasting sesuai yang diinginkan, yang mereka anggap ideal.  Hujan dan angin bisa tiba-tiba datang dengan hentakan yang merontokkan kembang-kembang kopi dan biji-biji  belia yang baru belajar menatap dunia.  Tak ada pilihan menu bagi si petani, bahkan di banyak tempat, dimana kopi-kopi spesial menjadi kopi andalan di café-café, biji-biji kopi itu tumbuh di atas tanah penuh sengketa. Petani kopi merawat kopi-kopi itu sebagai pertarungan. Sebab, sewaktu-waktu, mereka yang berkuasa, dapat merampas tanah-tanah tersebut, membabat pohon-pohon kopi, dan menggantinya dengan tembok-tembok menjulang tinggi.


Seberapa dekat sesungguhnya jarak kepekaan dalam menangkap atmosfir antara kopi di hilir dengan kopi di hulu ? Relatif, bisa sangat dekat, bisa sangat jauh.  Sebab ia ada di ruang pertautan, saat dimana indera perasa, perabaan batin, dan rasionalitas pikiran, bekerja secara seimbang.  Yaitu, ketika seseorang meneguk secangkir kopinya, Membiarkan seluruh indera perasanya bekerja, sedangkan alam pikirannya mengembara menuju bentangan kebun kopi dan petani yang berpeluh, lalu bathinnya mengingat semesta dengan doa. 

Kamis, 13 Oktober 2016

Apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi...


apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi..
sesungguhnya ia sudah terlalu lelah sejak awal perjalanan panjangnya,
memasuki semenanjung arab,
hadir sebagai penanda peradaban islam berabad lampau..
diperebutkan para pedagang eropa di gerbang venesia…
dirindukan para peziarah India,
disebar oleh koloni-koloni bangsa eropa,
dan menjalani nasib pengelanaannya di tanah jawa..
hingga menjelma “a cup of java”
lalu merayapi seluruh bukit dan lembah ibu pertiwi…
apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi…
tidakkah ia sudah melampaui semua..
menjadi teman sepi para sufi,
dipersahabat oleh kaum cendikia,
berintim dengan para pemikir bebas,
ia ada saat lahirnya cita-cita renaissance,
ia larut bersama para pengagum aufklarung,
menyatu di lepas perjamuan malam sang filsuf kant,
apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi…
ia menghubungkan peradaban,
mengilhami pencetusan teknologi,
dan dilumat oleh teknologi itu sendiri,
terpapar di mesin-mesin industri
apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi..
jauh di puncak dingin tempat bertumbuh, ia adalah rasa lelah…
yang menanti masa petiknya bersama kesunyian,
yang dengan kesabarannya menyimpan gumam petani,
yang tegaknya disangga oleh tulang-tulang dan air mata sejarah,
yang masyur namanya tak ditemukan di hamparan tempatnya berdiang,
dan label-label tak pernah singgah di gubuknya yang kusam.
apa lagi yang ingin kita perbuat pada kopi,
selain menikmatinya dengan rasa hikmat,
selayaknya memasuki relung sunyi petani,
yang aroma keringatnya (si petani) adalah wangi kopi itu sendiri…
di perjamuan para bangsawan pun, ia (petani kopi) tak dapat diingkari…
('jeng, 010916)

TENTANG MENYANGRAI KOPI

manual roaster
Jika saja biji kopi memiliki kesamaan kadar air, ukuran, struktur kimia, dan tekstur tentu proses menyangrai bisa dilakukan dengan perlakuan sama dan dikendalikan dengan mudah. Faktanya, biji kopi memiliki identitas karakter yang sangat beragam. Disitulah letak nilai seni menyangrai. Dan mereka, para penyangrai kopi --yang membebaskan dirinya dari hegemoni industri besar mesin penyangrai kopi--sesungguhnya adalah pengkriya, para pekerja seni. Yang dengan kemampuan teknisnya serta kepekaan sensoriknya, telah mengubah biji-biji kopi mentah menjadi biji kopi matang bercita rasa yang siap diolah menjadi sajian minuman kopi.

Menyangrai hingga menghasilkan biji kopi matang terbaik adalah juga proses penyelarasan antara gerak tubuh, indera sensorik, serta alam pikiran si penyangrai. Ada keintiman yang begitu kuat terjadi antara si penyangrai dengan aktivitas menyangrainya. Itu sebab, aktivitas menyangrai menjadi aktivitas yang sangat personal.
Rumitkah..?
Tentu tidak. Cukup lakukan, dengan peralatan yang dapat dengan mudah dijangkau. Sebab menyangrai adalah pengetahuan yang bersifat personal, maka nilai “menjadi tahu cara menyangrai” hanya bisa didapat dari proses menyangrai itu sendiri. Selebihnya, biarkan kesabaran dan ketekunan menjadi kekuatan, hingga kita mendapatkan biji-biji kopi yang matang sempurna. Mereka yang menekuni menyangrai tak ubahnya seperti NGELMU, kedalaman ilmunya hanya didapat dari perjalanannya menekuri aktivitas menyangrai itu sendiri.
Mari menyangrai kopi, dengan cara sederhana, di dapur rumah sendiri.

COFFEE BLEND dan Identitas Majemuk


Tentang Coffee Blend dan Identitas Majemuk 

(sekelumit penekuran terhadap kekerasan demi kekerasan yang terjadi mengatas namakan kebenaran identitas)




Ada kalanya kita butuh melakukan coffee blending. Dengan mengkombinasikan dua atau lebih kopi single origin, kemudian menemukan rasa baru yang dihasilkan dari proses percampuran, sebagai bentuk kesepakatan berbagai identitas kopi di dalamnya. Untuk membangunkan kesadaran kita, bahwa kenyataan yang sebenarnya, diri kita pun sesungguhnya adalah identitas yang majemuk, hasil perpaduan berbagai identitas sebagai unsur pembentuk, penggabungan dari ras, keyakinan agama, suku, idiologi, orientasi seksual, dsb.

Itu sebabnya, saya yang muslim, lahir di tanah angkola dari ibu bapak bersuku jawa, dan tumbuh besar di tengah teman-teman dengan latar belakang agama dan suku yang berbeda-beda, sulit menerima kenyataan bahwa kekerasan sara menjadi teror yang menghantui kehidupan bermasyarakat di sumatera utara. Masa kecil saya diwarnai sahabat-sahabat Kristen yang taat beribadah. Beranjak remaja kehidupan saya diwarnai keceriaan sahabat-sahabat dengan keragaman suku dan agama yang juga beragam (saya tinggal diapit tetangga-tetangga beragama islam, Kristen, Katolik, bersuku jawa, mandailing, batak toba, nias, serta satu tetangga kami menikah dengan perempuan Jepang). Sementara di rumah, saya dididik ibu yang masih menjalankan tradisi kejawen meskipun beliau juga taat menjalankan ibadah sebagai penganut agama islam.

Praktik keagamaan yang kami terapkan adalah praktik keagamaan yang didasarkan pada kesadaran tatanan politik dan sosial bahwa kami hidup di tengah masyarakat dengan identitas majemuk. Kami tidak mengenal kehidupan dengan identitas tunggal. Guru-guru madrasah tempat saya belajar mengaji serta ulama-ulama kami yang memberi tausiah di surau-surau semasa kami kecil tidak mengajarkan kebencian, terlebih pada tetangga/kerabat/sahabat kami yang beragama berbeda. Bagaimana mungkin saya membenci agama Kristen sementara wali kelas kesayangan saya yang mengajarkan saya membaca dan menulis di kelas 1 SD adalah seorang ibu guru beragama Kristen dan teman sebangku saya saat di SMA juga seorang penganut Kristen dan bersuku nias. 

Demi menjaga kesadaran, pagi tadi saya meracik beberapa arabika single origin dan menghasilkan kopi blend. Saya menikmati kenyataan dari rasa yang dihasilkan. Rasa dengan identitas yang utuh, rasa yang meluruhkan ego ketunggalan. Identitas ketunggalan itu, cukuplah dinikmati di ruang-ruang kesendirian. Ruang-ruang dimana atmosfir ketunggalan itu memungkinkan untuk tumbuh. Sebab identitas kemajemukan itu, adalah kenyataan dari ikatan kebhinekaan yang sudah terbentuk sebagai buah kearifan turun temurun dalam tatatan politik dan sosial. 

Dalam buku kekerasan dan ilusi tentang identitas, Amartya Sen mengutip sepotong puisi Ogden Nash “A Plea for Less Malice Toward None” 
Anak sekolah mana saja bisa mencintai laiknya orang pandir, 
Namun membenci itu, oh nak, butuh seni tersendiri.

Diulas kemudian oleh Amartya Sen dengan mengatakan; “Bahwa ilusi tentang identitas tunggal, yang menjadi landasan bagi mereka yang mendalangi konfrontasi, dipupuk dan dipelintir secara cermat oleh para pemimpin aksi penganiayaan dan pembantaian itu.” 

Maka, ketika kebencian dan kekerasan atas identitas sara terjadi di daerah-daerah dengan masyarakat yang hidup turun temurun di tengah kemajemukan di negeri ini, pertanyaannya adalah.. “bagaimana mungkin itu bisa terjadi, kalau bukan dipicu, didalangi oleh pemimpin-pemimpin yang imajinasinya dipenuhi ilusi tentang kebenaran identitas yang tunggal, yang memaksakan kebenarannya dan membenturkannya dengan tatanan politik dan sosial yang dibangun secara beradab oleh masyarakat setempat secara turun temurun.

Selamat menikmati kopi blend, dan menemukan keindahan rasa yang dihasilkan...

Senin, 05 Oktober 2015

Menghargai Kopi, Layaknya Karya Seni, Hasil Kerja Budaya Para Pengkriya


Mereka yang menanam dan mengolah bahan pangan, lalu menyajikannya bagi keberlangsungan hidup, sesungguhnya adalah pekerja seni, pengkriya, pengrajin. Mereka memberi sentuhan cita rasa pada peradaban. Demikian halnya mereka yang dengan sentuhannya telah mengolah kopi dengan sangat baik, menjelma minuman yang tersaji di meja-meja perjamuan, kedai-kedai rakyat, ruang-ruang perundingan, rumah-rumah kekerabatan, dan banyak tempat lain.
Kopi-kopi terbaik, tidak karena dilahirkan dari mesin-mesin pengolah kopi ternama. Mesin-mesin yang seolah-olah menjadi penanda mutu. Bukan juga karena penjualannya mampu menguasai pasar. Kopi-kopi terbaik, lahir, bermula dari benih yang mendekam pada tanah subur, yang diolah dengan tangan-tangan petani, memupuknya dengan cinta dan kasih sayang, seperti kasih sayang perempuan yang menjaga janinnya dalam kantung rahim kehidupan.
Kopi-kopi terbaik, lahir dari ketabahan dan kesabaran petani. Yang menjaga cita rasa kopinya dengan memilih, satu persatu biji kopi, lalu memetik hanya yang berwarna merah. Mereka tak mendustakan alam, tak menahan kehendak alam untuk menyempurnakan proses kelahiran biji kopi, mengikuti takdir genetis, sebagai cikal benih, penerus kehidupan pada tanaman kopi. Karena begitulah semesta bekerja, Ia membalurkan cita rasa pada kulit buah yang ranum merah.
Kopi-kopi terbaik, hadir dari doa panjang para pengolah. Yang mengucapkan syukur pada nikmat mentari, karenanya sari buah meresap dan mengering. Memperpanjang usia pada biji-biji kopi, memberinya waktu jeda, istirahat di gudang-gudang penyimpanan, sebelum merebakkan aroma magis saat merekah di penyangraian.
Lalu di tangan peracik, kopi terbaik bagaikan sketsa pada selembar kanvas. Intuisinya bekerja secepat kilat. Menangkap karakter, mengenali sifat. Ditangannya sketsa itu menjelma keindahan, kenikmatan. Menjadi karya seni dengan cita rasa tinggi.
Kopi terbaik itu, hadir dari sentuhan panjang cinta dan pengabdian para pengkriya, para seniman, para penjaga peradaban. Ia bernilai tinggi, semestinya bukan karena rantai distribusinya yang begitu panjang, tapi karena begitulah semestinya karya seni. Bernilai tinggi, karena cita rasanya bernilai tinggi. Takjim, pada mereka yang mengolah kopi sebagai pengabdian, lalu mempersembahkannya bagi kehidupan.

----------
(Catatan ini lahir setelah gagal memahami cara pandang Pemerintah (Kementerian Perindustrian) yang baru saja mencanangkan hari kopi Internasional untuk Indonesia, dengan menyediakan meja-meja khusus bagi mereka “pedagang” kopi, pelaku eksport, dan industri penyedia kopi instan sachet terbesar yang menguasai pasar kopi domestik. Tanpa kehadiran PETANI KOPI. Pemerintah yang memaknai kopi bukan sebagai karya seni dan hasil kerja budaya, tetapi sebagai industri). –catatan yang juga lahir dari obrolan pendek dengan para pengrajin kopi di rumah kopi Ranin, Cak tejo dan Mas Uji, matur nuwun sudah mencerahkan)-

Minggu, 22 Maret 2015

KOPI, dari tanah dan keringat petani, menuju gerakan perubahan sosial

(Sebuah catatan refleksi, dari perjalanan ziarah ke kebun-kebun kopi)

Khaldi, seorang penggembala kambing di dataran tinggi Ethiopia pada abad 8  yang selalu muncul dalam cerita penemuan pertama tanaman kopi, tak pernah membayangkan bahwa penemuan itu akan membawa pengaruh besar tidak hanya bagi perekenomian dunia, bahkan terhadap lahirnya gagasan pergerakan sosial di seluruh dunia.

Ethiopia, telah mengenal tanaman dan minuman kopi jauh sebelum Eropa menjadikan kopi sebagai komoditi yang menyumbang begitu besar terhadap kemajuan peradaban di Eropa, dan penyokong logistik ekspansi kekuasaan negara-negara Eropa di wilayah jajahannya.  Bahkan ketika abad 15, seorang haji asal Mysore-India, berhasil menyelundupkan biji kopi dan mulai membudidayakan tanaman tersebut di kampungnya, di India, negara-negara di Eropa masih begitu asing dengan minuman  tersebut. Seorang penyair asal Inggris, Sir George Sandys pada tahun 1600, dalam catatannya bahkan pernah menulis tentang orang-orang Turki yang gemar ngobrol hingga larut malam sambil menyeruput minuman yang warnanya sehitam jelaga, dan rasanya yang tidak biasa. Setelah itulah kemudian Eropa mulai mengenal kopi, yaitu sekitar tahun 1615, melalui pedagang-pedagang Venezia-Italia membawa pulang kopi dari negara jajirah arab, yang dulu dikenal dengan daerah Levant . Setelah penemuan itulah, baru kemudian Belanda, memulai penjelajahannya mengenai kopi, dengan membawanya dari Yaman menuju Ceylon (Sri Lanka), hingga nusantara. Dan mulai melakukan monopoli perdagangan kopi di Eropa mengalahkan kopi-kopi dari daerah asalnya, yaitu Yaman dan negara-negara jajirah arab lainnya. Dengan melakukan penanaman massal tanaman kopi didataran tinggi sepanjang Jawa, dengan system tanam paksa, koffie stelsel.

Kopi dan Gerakan Sosial
Kopi, merupakan alasan yang kuat bagi berkumpulnya orang-orang di ruang-ruang publik, selain  alkohol. Di negara-negara Eropa, popularitas kopi bahkan menyaingi minuman-minuman lokal. Pemerintah Jerman bahkan pernah melarang penjualan kopi di kedai-kedai minuman, karena perdagangan kopi di negara tersebut menjatuhkan penjualan minuman lokal mereka, yaitu bir.  Dan kopi Jawa, tentu saja, memiliki andil besar dalam memasok kebutuhan kopi Eropa pada masa itu, melalui kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda.  Bahkan pada tahun 1830-an melalui system cultuurestelsel yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, Jawa mampu memproduksi hingga mencapai hampir 60 ribu ton kopi arabika pertahun.  Kopi yang menaikkan pundi-pundi Pemerintah Hindia Belanda  secara drastis itu tentu saja diperoleh dari keringat petani-petani di tanah Jawa.  Untuk menggenjot terus produksi kopi tersebut, Pemerintah Hindia Belanda memperluas wilayah perkebunan kopinya hingga ke pulau-pulau lain di luar Jawa, termasuk Sumatera dan Sulawesi yang kini juga dikenal sebagai daerah-daerah penghasil kopi dengan karakter body kopinya yang khas.

Di Eropa minuman kopi mengisi peran penting dalam melahirkan gagasan-gagasan pergerakan, termasuk lahirnya revoluasi Perancis. Voltaire, filsuf yang berperan penting di balik revolusi perancis bahkan adalah seorang peminum kopi berat –konon Voltaire minum 50 cangkir kopi dalam sehari-- . Dalam catatannya, seorang ahli sejarah di Perancis; Jules Michelet, bahkan menyebutkan bahwa kopilah yang mebubah sejarah Perancis. “Kopi, minuman tak memabukkan. Stimulan mental yang kuat, meningkatkan kejernihan otak,” begitu dia kira-kira menyebut kehebatan minuman tersebut.  Procope Café adalah kedai kopi yang digemari para tokoh pencerah Perancis, seperti Voltaire, Rousseau, Denis Diderot, dan juga Napoleon Bonaparte.
Di Turki, tempat kopi menemukan peradabannnya, dimana proses pengolahan kopi mengalami pematangan dan penyempurnaan melalui penciptaan alat-alat penghalus dan teknik-teknis roasting yang semakin baik, tak pelak juga pernah menimbulkan kerisauan bagi penguasa.  Sultan Murrad IV, sang pewaris Dinasti Ottoman, menganggap kedai kopi telah berubah fungsi menjadi ajang perdebatan politik yang membahayakan bagi penguasa. Lalu melakukan tindakan represif terhadap pemilik kedai kopi, termasuk para peminum kopi.

Lalu, Bagaimana di Indonesia..?
Lama sejak Belanda meninggalkan jejak kakinya di Indonesia, kopi masih menjadi komoditi andalan di negeri ini. Meskipun nilainya sempat jatuh dan terpuruk di masa Pemerintahan Orde Baru. Tapi dalam sepuluh tahun terakhir, kopi kembali menjadi primadona, tidak hanya menempatkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam tiga besar penyuplai kebutuhan kopi dunia, selain Vietnam dan Brasil. Kopi juga telah mengubah wajah budaya dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Kopi adalah gaya hidup. Kopi telah berhasil mengubah style anak-anak muda. Jika sebelumnya, anak-anak muda gandrung minum minuman beralkohol dan bersoda, maka saat ini kopilah yang menjadi minuman yang digandrungin anak-anak muda.  Kopi bukan lagi minuman kakek-kakek atau orang-orang tua yang gemar berpikir berat. Kini kopi dinikmati orang-orang muda di café-café sambil melakukan obrolan-obrolan santai. Bahkan tak jarang kita menyaksikan sepasang kekasih duduk di café sambil minum kopi.

Pertanyaan mendasarnya adalah, kenapa pada saat rakyat Indonesia tidak lagi menjadi sapi perah Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi tuntutan monopolinya atas perdagangan kopi, dan saat kopi sudah menjadi minuman yang paling dibutuhkan di kedai-kedai kopi di negeri sendiri, kisah-kisah pergerakan di kedai-kedai kopi di Eropa itu tidak terjadi di Indonesia.  Kopi memang telah menimbulkan ketergantungan bagi para peminumnya, mereka peminum kopi di negeri ini nyaris sulit sekali beraktivitas jika tak meneguk minuman itu dalam sehari. Di Indonesia, kopi adalah revolusi itu sendiri. Dia mengubah banyak wajah. Kota-kota memoles wajahnya dengan café-café dan baristanya yang bangga menyajikan kopi hasil racikannya.  Para poitisi memilih sudut-sudut tertentu di kedai-kedai kopi untuk membicarakan muslihatnya. Begitupun para pemodal, menggelontorkan uang bermilyar-milyar dalam perjanjian bisnis sambil meyeruput kopi di café-café yang menjual kopi dengan harga termahal.

Nun jauh di dataran-dataran tinggi di seluruh nusantara pengahasil kopi, petani-petani masih menggunakan baju belelnya dalam mengolah tanah dan merawat tanaman tersebut. Saat panen, yang waktunya harus mereka nantikan dalam setahun masa penantian, mereka masih juga bertemu dengan tengkulak-tengkulak yang bahkan tak jarang harus menjual biji-biji kopi itu dengan sistem ijon.

Di perkebunan-perkebunan kopi di ketinggian, yang tanahnya sangat baik bagi tumbuhnya kopi arabika, kopi yang nilainya tinggi di pasar dunia. Perusahaan-perusahaan masih mengelola perkebunan tersebut dengan gaya feodal yang tak berbeda dengan perilaku Pemerintah Kolonial Belanda di masanya.. Mereka memperkerjakan rakyat di daerah itu hanya sebagai buruh dengan upah murah.  Lalu…, dimanakah gerakan perubahan tersebut berada..? Dimanakah dan untuk siapakah gerakan sosial itu terjadi…? Gerakan sosial itu adakah kita temukan di negeri yang tanah dan airnya sangat disukai oleh kopi-kopi terbaik yg dihasilkan negeri ini.

Kopi, dan ngopi memang dua yang berbeda. Kopi, tanaman yang tumbuh di dataran-dataran tinggi dengan biji-bijinya yang matang merah harus melewati perjalanannya yang begitu panjang, melewati kanal-kanal berliku, hingga berakhir di cangkir-cangkir mereka yang meneguknya.  Ada banyak kisah yang terjadi disepanjang perjalanannya, kisah air mata buruh kebun kopi dengan upah murahnya, kisah keringat petani kopi yang berbuah harga jual murah, kisah tanah-tanah yang masih harus diperebutkan. Kisah mesin-mesin olahan kopi produksi lokal yang selalu dipandang sebelah mata oleh para pengolah kopi yang dibius merk mesin-mesin kopi terkenal dari Jerman, dan negara-negara lainnya.

Lalu.., ngopi.., yang ditandai dengan suguhan atau sajian minuman kopi –dan bahkan kadang, mereka yang ngopi tak selalu minum kopi—yang ditemui di perjamuan-perjamuan, diskusi, atau kadang sekedar kongkow di kedai-kedai, kafe-kafe, adakah juga melahirkan gagasan-gagasan gerakan sosial…? Mungkin ya, meski tak sehebat lahirnya gagasan revolusi perancis. Faktanya, di kedai-kedai kopi, di kampung-kampung, ngopi masih menjadi teman dalam perbincangan kemasyarakatan. Ngopi, di kalangan aktivis gerakan sosial masih menjadi ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan progresif dan kritis. Meskipun, faktanya juga, “ngopi”, kini, telah semakin identik dengan gaya hidup, dengan tradisi kongkow, membentuk komunitas sosialita, dimana mereka tak selalu sebagai peminum dan penikmat “kopi”, tak selalu menjadi komunitas gerakan sosial, apalagi gerakan sosial yang menyoal kisah-kisah sedih petani di hulu perjalanan kopi.  Mungkin, perjalanan kopi yang begitu panjang, telah menjauhkannya dari bau peluh petani, yang tercium hanya wangi seduhan  kopi berbalur parfum, aroma modernitas alat peracik kopi, juga ornamen cantik penghias ruang kafe, yang harum dan bersih dari tanah-tanah garapan.
Selamat Minum Kopi.

(ditulis dan dibacakan untuk acara sarasehan budaya “Kopi, Sastra, dan Gerakan Sosial, bersama komunitas Kalimetro-Malang, 22 Februari 2015, ditulis dan diperbarui kembali dengan menyesuikan proses sarasehan dan penambahan referensi dari buku “The Road Of Java Coffee”, yang ditulis oleh Prawoto Indarto).